Ketua DPRD Meranti Ikut Basah-Basahan di Festival Perang Air Selatpanjang 2026
Ketua DPRD Kepulauan Meranti Khalid Ali ikut berbasah-basahan dalam Festival Perang Air Selatpanjang 2026 yang masuk KEN, disaksikan ribuan warga dan pejabat Polda Riau, menjadi magnet wisata Imlek dan penggerak ekonomi daerah.
MERANTI – TOPIKPUBLIK.COM – Ketua DPRD Kepulauan Meranti, H. Khalid Ali, tidak sekadar menghadiri pembukaan Festival Perang Air 2026 di Selatpanjang, tetapi juga turun langsung ikut berbasah-basahan bersama masyarakat. Momen itu menjadi simbol kebersamaan antara pimpinan daerah dan warga dalam perayaan budaya tahunan yang kini resmi masuk agenda nasional.
Pembukaan Festival Perang Air 2026 digelar meriah pada Selasa (17/2/2026) di Jalan Ahmad Yani, Kota Selatpanjang, Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Ribuan warga tumpah ruah memenuhi ruas jalan utama untuk menyaksikan dan ambil bagian dalam tradisi unik yang telah menjadi identitas daerah berjuluk Kota Sagu tersebut.
Dihadiri Pejabat Daerah hingga Kapolda Riau
Selain Ketua DPRD H. Khalid Ali, pembukaan festival ini turut dihadiri Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar, Wakil Bupati Muzamil, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta undangan lainnya.
Kehadiran unsur pimpinan Polda Riau juga semakin menambah semarak acara. Tampak hadir Kapolda Riau Herry Heryawan, Wakapolda Riau Hengki Haryadi, Kabid Humas Polda Riau Zahwani Pandra Arsyad, serta sejumlah Pejabat Utama Polda Riau lainnya.
Festival tahunan ini secara resmi dibuka oleh Bupati Asmar. Tahun 2026 menjadi momentum istimewa karena Festival Perang Air Selatpanjang resmi masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN), sebuah program strategis nasional yang menaungi event-event unggulan pariwisata Indonesia.
Tembakan Air Pembuka, Ribuan Peserta Jadi Sasaran
Prosesi pembukaan ditandai dengan tembakan air dari panggung utama oleh Bupati Asmar, Ketua DPRD Khalid Ali, dan Kapolda Riau. Ribuan peserta dari ratusan becak yang melintasi panggung utama menjadi sasaran semburan air tersebut.
Namun, suasana tak berhenti di situ. Para peserta perang air tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyemprotkan air ke arah panggung utama. Dalam hitungan menit, para pejabat dan peserta sama-sama basah kuyup, larut dalam kegembiraan tanpa sekat jabatan.
Setelah beberapa puluh becak melintas, Bupati Asmar, Ketua DPRD Khalid Ali, Kapolda Herry, Wakapolda Hengki, serta sejumlah pejabat lainnya turun dari panggung dan ikut naik becak berkeliling jalanan Kota Selatpanjang. Mereka berbaur bersama ribuan warga, memperlihatkan wajah kepemimpinan yang dekat dan menyatu dengan masyarakat.
Pantauan di lapangan, setelah satu putaran, rombongan pejabat kembali ke panggung utama dan melanjutkan perang air dari atas panggung sembari menyambut peserta berikutnya.
Simbol Keberagaman dan Toleransi
Usai mengikuti putaran becak, Ketua DPRD Kepulauan Meranti H. Khalid Ali menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme masyarakat dan wisatawan yang hadir.
“Perang air ini sangat menarik, sangat seru. Ini bukan sekadar permainan, tapi simbol kebersamaan dan keberagaman kita,” ujarnya.
Menurut Khalid Ali, Festival Perang Air menjadi bukti nyata tingginya toleransi antarumat beragama di Kepulauan Meranti, khususnya dalam perayaan Imlek yang dirayakan secara inklusif oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ia juga menyebut bahwa event serupa memang ada di Thailand, namun skala dan kemeriahannya tidak sebesar yang berlangsung di Selatpanjang.
“Di Indonesia hanya ada di Selatpanjang. Ini menjadi kebanggaan kita. Bahkan disebut-sebut lebih meriah dibanding festival perang air di Thailand,” katanya.
Magnet Wisata dan Penggerak Ekonomi Daerah
Festival Perang Air Selatpanjang yang digelar selama enam hari berturut-turut, mulai 17 hingga 22 Februari 2026, diprediksi akan menarik puluhan ribu wisatawan lokal maupun mancanegara.
Event ini berlangsung setiap hari mulai pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB dengan pengamanan ketat dari aparat kepolisian demi menjaga ketertiban dan kenyamanan pengunjung.
Adapun rute perang air meliputi Jalan Kartini, Jalan Imam Bonjol, Jalan Tebingtinggi, dan Jalan Diponegoro. Sepanjang ruas jalan tersebut, warga telah bersiap dengan drum-drum air di depan rumah dan toko mereka. Setiap becak dan sepeda motor yang melintas tak luput dari siraman air, menciptakan suasana penuh tawa dan kegembiraan.
Dampak ekonomi dari festival ini pun sangat signifikan. Tingkat hunian penginapan meningkat drastis, rumah makan kebanjiran pelanggan, dan para penarik becak menikmati lonjakan pendapatan.
“Hampir semua becak disewa. Harganya bervariasi tergantung jumlah putaran. Ini momen tahunan yang menjadi pundi-pundi rezeki bagi masyarakat,” ujar Khalid Ali.
Perputaran uang selama Festival Perang Air disebut mencapai angka yang fantastis, menjadikannya salah satu penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata unggulan di Kepulauan Meranti.
Imbauan Jaga Keamanan dan Sambut Tamu dengan Baik
Di akhir keterangannya, Ketua DPRD Kepulauan Meranti mengimbau masyarakat untuk menjaga keamanan dan memberikan kesan terbaik kepada para tamu yang datang.
“Beri rasa aman dan sambut tamu-tamu kita dengan baik. Kesan yang mereka dapatkan di sini akan menjadi cerita ketika pulang ke daerah masing-masing. Itu promosi terbaik bagi Meranti,” tegasnya.
Festival Perang Air Selatpanjang bukan hanya tentang basah-basahan, tetapi tentang identitas, toleransi, ekonomi, dan promosi wisata daerah. Di tengah guyuran air dan tawa ribuan orang, tersirat pesan kuat: Kepulauan Meranti adalah rumah bagi keberagaman yang dirayakan dengan sukacita.(Advertorial)
Wartawan: Ade Tian Prahmana























