Jalan Bagan Jaya–Enok 32,7 Km Resmi Difungsikan Pemprov Riau

Setelah dua tahun penantian, jalan utama Bagan Jaya–Enok sepanjang 32,7 km di Indragiri Hilir kini resmi difungsikan oleh Pemprov Riau. Akses vital ini memperkuat konektivitas, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi isolasi wilayah.

Jalan Bagan Jaya–Enok 32,7 Km Resmi Difungsikan Pemprov Riau
"Gubernur Riau Abdul Wahid meninjau ruas jalan Bagan Jaya–Enok yang telah difungsikan kembali sepanjang 32,7 km di Indragiri Hilir. Infrastruktur ini menjadi akses vital bagi warga desa dan penggerak ekonomi lokal."

TOPIKPUBLIK.COM – PEKANBARU – Setelah penantian panjang selama dua tahun, masyarakat Desa Bagan Jaya, Kecamatan Enok, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, akhirnya bisa bernapas lega. Ruas jalan utama Bagan Jaya–Enok sepanjang 32,7 kilometer, yang selama ini menjadi akses vital bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial, kini resmi difungsikan kembali dengan kondisi jauh lebih baik.

Meski di tengah keterbatasan anggaran yang dialami Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, pembangunan infrastruktur ini berhasil direalisasikan di masa kepemimpinan Gubernur Riau (Gubri) Abdul Wahid. Langkah ini menjadi angin segar bagi ribuan warga yang sebelumnya harus berjibaku menghadapi jalan rusak, berlumpur, dan nyaris tak layak dilalui, terutama saat musim hujan.

Dalam pernyataannya, Gubri Abdul Wahid menegaskan bahwa ketersediaan infrastruktur yang layak merupakan kunci utama bagi percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPRPKPP) Provinsi Riau untuk terus bekerja maksimal dalam memastikan keamanan dan kenyamanan aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Pembangunan infrastruktur jalan di wilayah terpencil dan perbatasan tetap menjadi prioritas utama. Ini adalah bentuk komitmen nyata Pemprov Riau untuk mendorong konektivitas antardaerah dan menciptakan pemerataan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Riau,” ujar Gubri Abdul Wahid, Minggu.

Antusiasme masyarakat terlihat jelas menyambut kabar ini. Selama bertahun-tahun, kondisi jalan yang rusak parah menjadi penghambat utama laju perekonomian desa. Banyak petani, pelaku UMKM, hingga pelajar harus berjuang ekstra untuk melewati jalur tersebut. Kini, jalan yang telah diperbaiki ini memberi harapan baru dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat desa ke pusat-pusat ekonomi dan layanan publik.

“Sudah lama kami menunggu jalan ini diperbaiki. Alhamdulillah, sekarang kendaraan bisa lewat dengan nyaman, baik roda dua maupun roda empat. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Gubernur Abdul Wahid yang peduli dan memperhatikan jalan Bagan Jaya–Enok,” ungkap Ahmad, warga setempat.

Sebagai informasi tambahan, ruas jalan Bagan Jaya–Enok sepanjang 32,7 kilometer sebelumnya berada di bawah kewenangan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau. Namun, seiring dengan kebutuhan strategis dan desakan masyarakat, status jalan ini kini resmi dialihkan menjadi jalan provinsi.

Perubahan status tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor: KPTS/7464/X/2023 yang diterbitkan pada akhir tahun 2023. Proses serah terima operasional jalan secara resmi baru terealisasi pada 28 Mei 2025, melalui Berita Acara Nomor: BA/03/Bb23/2025.

Kepala UPT Jalan dan Jembatan Wilayah IV Dinas PUPRPKPP Provinsi Riau, Ludfi Hardi, ST, MT, menjelaskan bahwa saat ini jalan Bagan Jaya–Enok telah mulai difungsikan secara bertahap. Untuk menunjang proses pemanfaatan awal, pihaknya menggunakan raw material dan quarry waste sebagai bahan dasar pengerasan.

“Kami juga memfungsionalkan ruas jalan Enok–Batas Provinsi Jambi di Enok Benteng dengan metode serupa, yakni menggunakan quarry waste. Ini merupakan langkah cepat dan efisien sambil menunggu penanganan permanen. Komitmen kami adalah tidak menunda perbaikan jalan demi kelancaran aktivitas warga dan mendukung distribusi logistik di kawasan ini,” tegas Ludfi.

Perbaikan ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur jalan provinsi di Riau tidak hanya menyasar kota-kota besar, namun juga menjangkau desa terpencil. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas regional, mengurangi biaya logistik, serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.