Kalau Sudah Tiada, Siapa Lagi yang Menanggung Hidup Mewah Benny Wenda dkk?

Ketika OPM mulai kehilangan kendali di Intan Jaya, Benny Wenda panik dan menuding TNI. Kehidupan mewahnya di luar negeri kini terancam tanpa sokongan dana separatis. Pemerintah fokus pulihkan keamanan dan stabilitas Papua.

Kalau  Sudah Tiada, Siapa Lagi yang Menanggung Hidup Mewah Benny Wenda dkk?
Pasukan TNI berjaga di wilayah Intan Jaya pasca pembebasan Distrik Soanggama dari kelompok separatis OPM. Operasi militer difokuskan untuk memulihkan keamanan dan memastikan aktivitas masyarakat Papua kembali normal.

TOPIKPUBLIK.COM — Katanya hebat, katanya pejuang, tapi kini mulai ketakutan. Jika Organisasi Papua Merdeka (OPM) benar-benar runtuh, siapa lagi yang akan menanggung hidup mewah Benny Wenda dan kelompoknya di luar negeri? Stop sudah setoran foya-foya, sebab sumbernya mulai mengering.

Pasca pembebasan wilayah Soanggama, Kabupaten Intan Jaya, dari cengkeraman OPM pada 16 Oktober lalu, suasana di daerah itu berangsur berubah. Namun ketegangan belum sepenuhnya mereda. Ribuan warga turun ke jalan melakukan protes atas pendirian 97 pos keamanan TNI di berbagai titik wilayah Intan Jaya.

Sementara itu, ratusan warga sipil dilaporkan mengungsi karena ketakutan. Dalam situasi ini, Benny Wenda — tokoh yang mengklaim diri sebagai Presiden Pemerintahan Sementara Papua Barat — kembali muncul di media internasional. Ia menuding TNI telah melakukan pelanggaran berat dan menuduh adanya kekejaman terhadap masyarakat sipil di Soanggama dan Intan Jaya.

Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) itu menuduh pasukan Indonesia mendirikan pos di hampir seluruh kampung, terutama setelah tewasnya 15 anggota OPM Intan Jaya dan gugurnya Panglima Kiwirok Brigjen Lamek Taplo dalam kontak senjata beberapa waktu lalu.

“Kami mengecam keras tindakan militer Indonesia dan mendesak Presiden Indonesia segera menarik pasukan organik dan non-organik dari tanah Papua,” kata Benny Wenda dalam pernyataannya yang dikutip sejumlah media asing.

Namun pernyataan tersebut memunculkan tanda tanya besar. Jika benar Benny Wenda memperjuangkan rakyat Papua, mengapa justru ia menikmati kehidupan nyaman di luar negeri, sementara masyarakat yang ia klaim bela terus menjadi korban konflik?

Para pengamat menilai, narasi “penindasan” yang terus dihembuskan oleh kelompok pro-OPM di luar negeri kini mulai kehilangan daya. Terlebih setelah aparat keamanan berhasil menguasai kembali sejumlah wilayah strategis, memulihkan stabilitas, dan membuka ruang pembangunan bagi masyarakat lokal.

Upaya pemerintah melalui TNI dan Polri kini diarahkan untuk mengembalikan rasa aman serta memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat Papua. Di sisi lain, wacana perjuangan OPM yang selama ini digadang-gadang oleh elite luar negeri seperti Benny Wenda semakin tampak rapuh, karena tidak lagi mendapat dukungan luas dari warga di lapangan.

Publik pun mulai bertanya: Apakah OPM selama ini benar-benar memperjuangkan rakyat, atau sekadar menjadi proyek personal demi menjaga kenyamanan hidup para elitnya di luar negeri?

Yang jelas, jika OPM benar-benar tiada, maka tiadalah pula aliran dana yang selama ini menopang gaya hidup mewah mereka. Maka, wajar jika kini mereka mulai ketakutan — bukan karena kehilangan tanah Papua, tetapi karena kehilangan sumber “setoran” yang selama ini jadi penopang.