Dedi Mulyadi: Jajanan Anak Bisa Jadi Penyakit, Bukan Protein
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi kritik jajanan anak yang rendah gizi dan belum tersertifikasi, ajak masyarakat ubah pola konsumsi demi hidup sehat.
TOPIKPUBLIK.COM – Dalam pertemuan bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk menciptakan tatanan hidup sehat bagi masyarakat Jawa Barat.
“Caranya gimana? Semiskin-miskinnya orang Jawa Barat, jajannya Rp10 ribu. Semiskin-miskinnya orang Jawa Barat, pasti masih beli rokok sebungkus,” ujarnya di hadapan Menkes, menyoroti kebiasaan konsumsi yang menjadi perhatian dalam membangun masyarakat sehat.
Menurut Dedi, kesimpulan tersebut bukan asumsi, melainkan hasil riset lapangan yang ia lakukan sendiri sebagai bentuk kepedulian terhadap pola hidup masyarakat di wilayah yang dipimpinnya.
Ia menyoroti bahwa problem utama bukan hanya soal kebiasaan membelanjakan uang, namun pola konsumsi jajanan senilai Rp10 ribu itu justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
“Yang jadi masalah, jajanan itu berubah jadi penyakit, bukan jadi peningkatan asupan gizi seperti protein,” ujarnya tegas.
Lebih jauh, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa jajanan yang dikonsumsi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya umumnya belum memenuhi standar gizi dan tidak memiliki sertifikasi dari otoritas terkait.
“Sebagian besar jajanan yang beredar di masyarakat, Kementerian Kesehatan tidak pernah memberikan sertifikasinya,” tutur Dedi menyoroti lemahnya pengawasan makanan di tingkat lokal.
Gubernur Jawa Barat itu bahkan memberi contoh konkret dengan menyebut jenis-jenis pedagang makanan yang kerap dijumpai di lingkungan sekolah maupun pemukiman warga.
“Tukang cilok ini, sertifikasi kesehatannya benar enggak? Tukang basreng dan sejenisnya juga demikian,” ungkapnya sambil mempertanyakan aspek keamanan pangan dari jajanan jalanan tersebut.
Meskipun tidak bermaksud menjelekkan jenis makanan tradisional tersebut, Dedi mengingatkan bahwa faktor kebersihan menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama saat dikonsumsi oleh anak-anak.
“Saya tidak bilang makanan itu tidak baik. Tapi coba lihat, minyak jelantahnya sudah tiga hari enggak diganti. Dan itu dikonsumsi anak-anak kita setiap hari,” ujarnya prihatin.
Sebagai contoh upaya nyata yang pernah ia lakukan, Dedi Mulyadi menceritakan kebijakan tegas yang diterapkannya saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Salah satu kebijakan populis namun kontroversial adalah mewajibkan seluruh siswa untuk membawa bekal makanan dari rumah.
“Banyak yang membenci saya waktu itu. Tapi saya yakin, bekal dari rumah lebih terjamin gizinya daripada anak-anak jajan sembarangan,” tuturnya.
Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak, tetapi juga secara langsung mengurangi ketergantungan anak terhadap jajanan tidak sehat di lingkungan sekolah.
























