Hari Puisi Indonesia Resmi Ditetapkan, Chairil Anwar Jadi Simbol Nasional

Kementerian Kebudayaan resmi menetapkan Hari Puisi Indonesia setiap 26 Juli, bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar. Momen ini menegaskan puisi sebagai warisan budaya dan identitas bangsa.

Hari Puisi Indonesia Resmi Ditetapkan, Chairil Anwar Jadi Simbol Nasional
Para tokoh sastra dan pejabat negara saat prosesi penetapan Hari Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (26/7). Penetapan ini menegaskan puisi sebagai warisan budaya nasional dan simbol literasi bangsa.

TOPIKPUBLIK.COM - PEKANBARU – Pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan Hari Puisi Indonesia (HPI) pada Sabtu malam, 26 Juli, dalam sebuah prosesi budaya yang berlangsung khidmat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Penetapan ini merupakan kelanjutan dari deklarasi bersejarah yang digelar di Pekanbaru, Riau, tepat 13 tahun lalu, menjadikan momen ini sebagai tonggak penting dalam perkembangan literasi puisi nasional.

Penetapan Hari Puisi Indonesia menegaskan bahwa selama lebih dari satu dekade, para penggiat sastra dan komunitas puisi yang tergabung dalam Yayasan Hari Puisi Indonesia (YHPI), telah aktif dan konsisten menyemarakkan HPI dengan berbagai kegiatan berskala nasional. Ini termasuk penilaian buku puisi terbaik, penghargaan bagi penyair adiluhung, dan penyelenggaraan acara di ratusan titik di seluruh Indonesia secara mandiri dan partisipatif.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja keras YHPI yang selama 13 tahun tanpa henti menggugah kesadaran publik akan pentingnya puisi sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya tertua. Ia menekankan bahwa tanggal 26 Juli dipilih sebagai HPI karena bertepatan dengan hari kelahiran Chairil Anwar, ikon puisi modern Indonesia yang karya-karyanya abadi dalam ingatan bangsa.

Dalam Keputusan Menteri Kebudayaan, disebutkan bahwa puisi memiliki akar budaya yang kuat di seluruh nusantara, menjadi bagian integral dalam berbagai peristiwa penting bangsa. Puisi dinilai berperan besar dalam membangun kesadaran historis, memperkuat nasionalisme, serta menumbuhkan semangat patriotisme dan keberagaman yang inklusif.

Fadli Zon menambahkan bahwa puisi tidak hanya memperkaya narasi budaya Indonesia, tetapi juga menjadi sarana edukatif untuk menanamkan nilai-nilai kritis, empatik, kreatif, dan toleran. Melalui puisi, sejarah dan kearifan lokal dapat dilestarikan secara kontekstual, selaras dengan perkembangan zaman dan dinamika masyarakat.

Menurut Fadli, saatnya negara hadir memberikan pengakuan formal atas perjuangan panjang para penyair dan aktivis sastra. Penetapan HPI yang telah diperjuangkan sejak tahun 2012 ini, menunjukkan bahwa suara kolektif para sastrawan dari Aceh hingga Papua akhirnya mendapat legitimasi negara. Dukungan besar datang dari berbagai tokoh seperti Rida K. Liansi, Agus R. Sarjono, Ahmadun Y. Herfanda, Jamal D. Rahman, Manan S. Mahayana, dan Kazzaini KS yang turut merumuskan dasar HPI.

Fadli Zon juga menyoroti bagaimana Chairil Anwar, meski hanya hidup hingga usia 27 tahun, telah menciptakan karya-karya monumental seperti “Karawang–Bekasi” dan “Diponegoro” yang membakar semangat perjuangan dan kebangsaan. Puisi, katanya, telah hidup sejak era Pujangga Lama hingga masa modern, membentuk kesadaran kolektif bangsa dari generasi ke generasi.

Lebih jauh, Menteri merujuk pada Pasal 5 Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menyebut puisi sebagai bagian dari bahasa, sastra, seni, dan tradisi lisan – elemen kunci dalam objek pemajuan kebudayaan nasional. Puisi dinilai mampu memperkaya keberagaman budaya dan mempertegas jati diri bangsa Indonesia.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kebudayaan berkomitmen menjalin kolaborasi aktif dengan komunitas sastra, meluncurkan program unggulan seperti Anugerah Sastra Indonesia, serta mendirikan laboratorium penerjemahan sastra untuk mengenalkan karya-karya sastra Indonesia ke dunia internasional.

Prosesi penetapan ini turut dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh sejumlah tokoh nasional seperti Sutardji Calzoum Bachri, Gus Nasruddin, Nissa Rengganis, Linda Djalil, Taufik Ikram Jamil, Dheni Kurnia, Yose Rizal Manua, dan Abdul Kadir Ibrahim. Turut hadir dalam acara tersebut Duta Besar Ekuador, Mr. Luis Arellano, serta jajaran pimpinan YHPI, antara lain Ridha K. Liansi selaku pembina, Asrizal Nur sebagai ketua yayasan, dan Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat.

Penetapan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam pemajuan sastra nasional, memperluas cakupan literasi budaya, serta mendorong generasi muda untuk lebih mencintai dan memaknai puisi sebagai kekayaan intelektual bangsa. Negara kini memberikan pengakuan penuh terhadap puisi sebagai identitas budaya yang hidup dan berdampak nyata bagi kemajuan peradaban Indonesia.

Sebagai catatan sejarah, penentuan tanggal HPI memang melalui proses yang cukup intens dan sarat dinamika. Sekitar 40 penyair dari berbagai provinsi, berkumpul di Pekanbaru pada 21–23 November 2012, dalam forum nasional yang akhirnya menetapkan tanggal lahir Chairil Anwar sebagai waktu paling tepat memperingati Hari Puisi Indonesia. Deklarasi ini dipimpin langsung oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, yang juga menjadi simbol kuat kebangkitan perpuisian Indonesia.