Koko Iskandar, Yana Mulyana dan Asep Ajidin Resmi Perkuat Kepengurusan MUI Riau 2025–2030
MUI Riau resmi kukuhkan kepengurusan baru 2025–2030. Koko Iskandar, Yana Mulyana, dan Asep Ajidin dipercaya memperkuat dakwah, pendidikan, kaderisasi, dan pengembangan Islam moderat di Riau.
PEKANBARU, TOPIKPUBLIK.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau resmi memasuki babak baru kepengurusan masa khidmat 2025–2030 melalui agenda Pengukuhan Komisi/Lembaga dan Rapat Kerja Daerah (Raker) MUI Riau 2026 yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan di Gedung Balai Serindit, Kompleks Kediaman Gubernur Riau, Sabtu (23/05/2026).
Momentum strategis tersebut tidak hanya menjadi seremoni pergantian struktur organisasi, tetapi juga menandai penguatan arah gerak MUI Riau dalam menghadapi dinamika sosial, pendidikan, ekonomi umat, hingga tantangan globalisasi dakwah Islam di era modern. Dalam pengukuhan itu, sejumlah tokoh Persatuan Islam (PERSIS) Provinsi Riau dipercaya mengemban amanah penting dalam jajaran kepengurusan baru MUI Riau.
Tokoh PERSIS Riau, Dr. H. Koko Iskandar, S.Ag., M.Si., resmi dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan MUI Provinsi Riau. Sementara itu, Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Riau masa khidmat 2025–2030.
Di sisi lain, sosok senior Persatuan Islam Riau, Yana Mulyana, S.Pd.I., yang saat ini menjabat Ketua Penasehat Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW PERSIS) Provinsi Riau, juga memperoleh kepercayaan strategis sebagai Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Riau.
Penunjukan ketiga tokoh tersebut dinilai menjadi representasi kuat atas kiprah organisasi Islam dalam memperkuat peran keulamaan, dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat di Provinsi Riau. Kepercayaan yang diberikan kepada tokoh-tokoh PERSIS itu sekaligus memperlihatkan komitmen MUI Riau dalam merangkul berbagai elemen umat demi menghadirkan kepemimpinan kolektif yang inklusif, progresif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Dr. H. Koko Iskandar dikenal luas sebagai figur yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan, organisasi, dakwah, dan politik. Selain aktif dalam pembinaan umat dan pengembangan pemikiran Islam, ia juga pernah menjadi Anggota DPRD Provinsi Riau dari Fraksi Partai Demokrat.
Kiprah politiknya tercatat cukup menonjol pada periode 2009–2014. Saat itu, Koko Iskandar dipercaya menjabat Ketua Fraksi Partai Demokrat sekaligus Wakil Ketua Komisi di DPRD Provinsi Riau. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal strategis dalam memperkuat sektor pengkajian, penelitian, dan pengembangan pemikiran keislaman di tubuh MUI Riau, terutama dalam merespons berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat.
Tidak hanya itu, kapasitas akademik dan pengalaman organisasional yang dimiliki Koko Iskandar dipandang mampu memperkuat posisi MUI Riau sebagai lembaga keulamaan yang adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan identitas nilai-nilai Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin.
Sementara itu, Dr. Asep Ajidin dikenal sebagai akademisi, praktisi hukum, sekaligus aktivis dakwah yang aktif membangun penguatan intelektual umat di Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru.
Rekam jejaknya di bidang pendidikan, kaderisasi, advokasi hukum, dan pengembangan sumber daya manusia Islam menjadikan dirinya dipercaya memperkuat sektor pendidikan dan kaderisasi di lingkungan MUI Riau. Kehadirannya di jajaran kepengurusan baru diharapkan mampu melahirkan sistem kaderisasi ulama dan intelektual Muslim yang lebih modern, terbuka, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Adapun Yana Mulyana dinilai sebagai salah satu tokoh senior yang memiliki kontribusi panjang dalam perjalanan dakwah Islam di Provinsi Riau. Pengalaman dan konsistensinya dalam membangun pembinaan umat serta memperkuat sinergi organisasi Islam menjadi salah satu alasan utama dirinya dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Riau.
Pengamat sosial keagamaan menilai masuknya tokoh-tokoh PERSIS ke dalam struktur kepengurusan MUI Riau semakin mempertegas peran organisasi Islam dalam mendukung transformasi MUI menjadi lembaga keulamaan yang tidak hanya fokus pada persoalan fatwa dan dakwah, tetapi juga mampu menjawab tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, moral, hingga perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
Dalam agenda tersebut, MUI Riau juga secara resmi mengukuhkan 9 komisi dan 4 lembaga sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi untuk memperkuat efektivitas pelayanan keumatan dan memperluas kontribusi ulama dalam kehidupan masyarakat.
Ketua Umum MUI Provinsi Riau, Dr. H. Saidul Amin, M.A., dalam pidato iftitahnya menegaskan bahwa MUI Riau harus tampil sebagai institusi keulamaan yang tidak hanya menjaga otoritas moral dan keagamaan, tetapi juga menjadi motor penggerak peradaban Islam yang berkemajuan di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, tantangan umat ke depan semakin kompleks, mulai dari persoalan moral generasi muda, penguatan ekonomi umat, perkembangan teknologi digital, hingga arus pemikiran global yang membutuhkan respons cepat dan tepat dari kalangan ulama.
Karena itu, ia menegaskan tiga arah besar gerak organisasi MUI Riau lima tahun ke depan. Pertama, memperkuat konsolidasi internal dan soliditas kepengurusan. Kedua, memperluas jejaring dakwah dan kontribusi keislaman di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Ketiga, membangun fondasi ekonomi organisasi yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan.
“Kita ingin MUI Riau hadir sebagai rumah besar umat, menjadi perekat persatuan, sekaligus menjadi pusat pengembangan peradaban Islam yang memberikan solusi bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A., yang menyampaikan optimisme besar terhadap posisi strategis Provinsi Riau sebagai kawasan Melayu yang memiliki potensi besar menjadi pusat dakwah Islam wasathiyah di Asia Tenggara.
Menurutnya, Riau memiliki kekuatan historis, budaya Melayu Islam, serta posisi geopolitik yang sangat strategis untuk memainkan peran penting dalam penyebaran dakwah Islam moderat di kawasan ASEAN.
“MUI Riau memiliki kekuatan geopolitik dan geostrategis yang sangat besar untuk menjadi jendela dakwah Islam moderat, inklusif, dan berkemajuan di kawasan ASEAN,” ungkapnya.
Raker MUI Riau 2026 sendiri mengusung tema filosofis, “Bertahta di Hati Umat, Bersemayam di Jiwa Bangsa dan Berdampak untuk Semesta.” Tema tersebut menjadi spirit kepengurusan baru dalam melahirkan program-program yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat, memperkuat nilai kebangsaan, sekaligus relevan menghadapi tantangan global.
Dengan amanah baru yang diemban, Yana Mulyana, Dr. Koko Iskandar, dan Dr. Asep Ajidin diharapkan mampu memperkuat sinergi ulama, pendidikan, kaderisasi, dan pengembangan pemikiran keislaman di Provinsi Riau.
Kehadiran mereka diyakini akan membawa energi baru bagi MUI Riau dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, berilmu, toleran, serta memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional, sejalan dengan cita-cita menjadikan Riau sebagai pusat peradaban Melayu Islam yang maju dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.





Samsudin



















