Padang Tujuh Rawan Pencurian, Warga Desak Polisi Pasaman Barat Bertindak

Maraknya pencurian di Padang Tujuh, Pasaman Barat, membuat warga resah. Berbagai kasus belum terungkap, masyarakat mendesak polisi bertindak cepat dan tegas.

Padang Tujuh Rawan Pencurian, Warga Desak Polisi Pasaman Barat Bertindak
Ilustrasi rumah warga di wilayah Padang Tujuh, Pasaman Barat yang menjadi sasaran pencurian. Maraknya aksi kriminal membuat masyarakat resah dan mendesak aparat kepolisian meningkatkan pengamanan.

TOPIKPUBLIK.COM - Pasaman Barat - Maraknya aksi pencurian di wilayah Jorong Padang Tujuh, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, kian meresahkan masyarakat. Warga pun mendesak aparat Kepolisian Resor (Polres) Pasaman Barat untuk segera mengambil langkah tegas dan responsif demi mengembalikan rasa aman yang kian tergerus.

Hal ini mencuat setelah seorang ibu paruh baya berinisial “AS” mendatangi Divisi Tindak Pidana Umum (Tipidum) Polres Pasaman Barat, Jumat (27/03/2026). Ia hadir bersama dua orang kakaknya untuk memberikan keterangan tambahan kepada penyidik terkait dugaan tindak pidana pencurian yang menimpa dirinya.

Laporan polisi atas kasus tersebut sebenarnya telah dibuat sejak Kamis, 12 Maret 2026, atau sehari setelah peristiwa pencurian terjadi di rumah korban yang berada di Jambu Baru, Jorong Padang Tujuh. Berdasarkan kronologi yang disampaikan, aksi pencurian diduga berlangsung pada rentang waktu pukul 18.00 hingga 20.00 WIB, saat kondisi rumah dalam keadaan kosong.

Saat kejadian, korban diketahui sedang berada di Pasaman Baru untuk berbuka puasa di sebuah warung bakso kaki lima yang berlokasi di depan Kantor Bupati Pasaman Barat. Momentum tersebut diduga dimanfaatkan oleh pelaku untuk melancarkan aksinya.

Namun, kasus yang dialami “AS” bukanlah peristiwa tunggal. Berdasarkan penelusuran dan keterangan sejumlah warga, wilayah Padang Tujuh dalam beberapa waktu terakhir memang dikenal rawan tindak pencurian. Ironisnya, hingga kini belum ada satu pun pelaku yang berhasil diungkap dan diproses secara hukum.

“Sudah sering kejadian, tapi belum ada yang tertangkap. Ini yang membuat kami semakin khawatir,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Berbagai jenis usaha dan fasilitas masyarakat dilaporkan pernah menjadi sasaran aksi kriminal tersebut. Mulai dari toko beras, toko bangunan, pedagang LPG, toko grosir kebutuhan harian, hingga toko bumbu masakan. Tidak hanya itu, rumah warga juga tak luput dari incaran, termasuk mesin penggilingan padi (heller) dan bahkan kotak infak di masjid setempat yang turut dibobol oleh pelaku.

Kondisi ini semakin memperkuat persepsi masyarakat bahwa pelaku pencurian di wilayah tersebut leluasa beraksi tanpa rasa takut terhadap hukum. Minimnya pengungkapan kasus dinilai menjadi salah satu faktor yang memperparah situasi keamanan.

Tak hanya di permukiman, aksi pencurian juga marak terjadi di area perkebunan warga. Sejumlah komoditas seperti pisang, alpukat, mangga, jengkol, hingga kelapa sawit dan bibit sawit kerap menjadi target empuk para pelaku. Kerugian yang ditimbulkan pun tidak sedikit, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan.

Di sisi lain, fenomena sosial yang cukup memprihatinkan juga mulai muncul. Sebagian korban memilih untuk tidak melaporkan kejadian yang mereka alami kepada pihak kepolisian. Hal ini diduga dipengaruhi oleh menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas penanganan kasus oleh aparat penegak hukum.

Bahkan, tidak sedikit warga yang akhirnya menempuh cara-cara non-formal, seperti mendatangi dukun, untuk mengetahui siapa pelaku pencurian. Mereka berharap pelaku mendapatkan ganjaran atas perbuatannya, meskipun bukan melalui jalur hukum resmi.

Selain itu, rendahnya pemahaman masyarakat terhadap hak-hak sebagai pelapor juga menjadi faktor penghambat. Banyak warga yang mengaku enggan menanyakan perkembangan laporan mereka karena merasa pesimistis kasus tersebut akan ditindaklanjuti secara serius.

Kondisi ini diperparah dengan anggapan bahwa aparat penegak hukum belum cukup proaktif dalam memberikan pelayanan serta komunikasi kepada masyarakat terkait perkembangan penanganan kasus.

Meski demikian, harapan masyarakat belum sepenuhnya sirna. Warga Padang Tujuh tetap menaruh harapan besar kepada Polres Pasaman Barat agar ke depan dapat meningkatkan kinerja, mempercepat proses pengungkapan kasus, serta memperkuat patroli keamanan di wilayah rawan.

Masyarakat juga berharap adanya tindakan tegas terhadap para pelaku kejahatan, sehingga dapat menimbulkan efek jera dan mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.

Dengan langkah yang cepat, transparan, dan profesional dari pihak kepolisian, warga meyakini rasa aman dan kepercayaan publik dapat kembali pulih. Keamanan lingkungan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan sinergi antara masyarakat dan penegak hukum untuk menciptakan situasi yang kondusif dan berkeadilan.

Wartawan: SAM